Sebagai seorang Bapak, yang selama ini berusaha menjaga keluarga yang harmonis namun apa daya ternyata sudah tak berkemampuan lagi . Kini anakku sudah besar sudah bisa mencari uang sendiri, akan tetapi ketika anak kesulitan keuanganpun sebagai orang tua masih ikut memikirkan untuk membantu.
Saat ketika orang tua butuh bantuan keuangan terpaksa meminjam kepada anak dengan berat hati anak memberikan pinjaman yang harus segera dikembalikan. Sedih rasanya ketika masih kecil di uri-uri di gadang-gadang selalu diberi yang terbaik makan dan kesehatan serta pendidikan sebagai pengantar kelak menjadi orang yang berguna bagi Nusa - Bangsa dan agama.
Kejadian ini mengingatkanku riwayat Nabi saw.:
Seorang lelaki datang kepada Nabi saw, mengadukan ayahnya yang menghabiskan uang miliknya tanpa meminta izin terlebih dahulu kepadanya. Nabi yang mulia memanggil ayah orang itu ke hadapannya. Ketika lelaki jompo itu datang dengan tertatih-tatih bersandar pada tongkatnya, Nabi bertanya, “Betulkah kau mengambil uang anakmu tanpa seizinnya?”
“Wahai Nabi Allah,” lelaki itu menangis, “ketika aku kuat dan anakku lemah, ketika aku kaya dan dia miskin, aku tidak membelanjakan uangku kecuali untuk memberi makan kepadanya, bahkan terkadang aku membiarkan diriku kelaparan asalkan dia boleh makan. Sekarang aku telah tua dan lemah sementara anakku tumbuh kuat. Aku telah jatuh miskin sementara anakku menjadi kaya. Ia mulai menyembunyikan uangnya dariku. Dahulu aku menyediakan makan untuknya tapi sekarang ia hanya menyiapkan makan untuk dirinya. Aku tak pernah memperlakukan ia seperti ia mempelakukanku. Jika saja aku masih sekuat dulu, aku akan merelakan wangku untuknya.”
Ketika mendengar hal ini, airmata Nabi saw jatuh berlinang seperti untaian mutiara menimpa janggutnya yang suci, “Baiklah,” Nabi berkata, “habiskan seluruh uang anakmu sekehendak hatimu. Uang itu milikmu…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar