Saya lihat jam, padahal baru jam 6.25, tapi tampak sudah banyak kendaraan ditempat parkir, dalam hatiku ;”Luar biasa, kawan-kawan ini loyalitas terhadap perusahaannya sangat tinggi, patut di acungi jempol”.
“Tumben mas, datang pagi-pagi” saya tanya pada salah seorang kawan yang baru datang di parkiran.
Dia sodorkan tangannya menyalami saya : “Inilah hikmahnya, bisa masuk lebih pagi dari biasanya” katanya.
“Maksudnya gimana Mas, hikmah dari apa” ? kata saya minta penegasan.
Sambil memparkirkan motornya dan merapikan rambut, lalu kita ngobrol bareng untuk mengisi waktu sambil berjalan.
Katanya, biasanya setiap pagi sudah disediakan kopi panas kesukaannya. Tapi beberapa hari ini sudah tidak lagi ada kopi di meja seperti biasanya, maklum, belum gajian.
Karena belum gajian maka kita harus lebih giat lagi, semangat tinggi. “Inilah hikmahnya , bisa datang pagi-pagi”.
“Saya kira semangat tinggi karena gaji naik, merubah kebiasaan lama, datang lebih pagi”, kata saya lagi
“Benar, harus diambil hikmahnya; karena setiap kejadian yang menimpa kita tentulah ada maksudnya, sebagai ujian kesabaran baik di rumah maupun di kantor”.
“Hebat lho, sampeyan sudah ngelmu makrifat, ya. Mas”…kata saya
“Beruntung, perusahaan ini punya banyak karyawan hebat, karena selalu bersyukur walaupun kena musibah. Semua dikembalikan kepada yang Kuasa, adalah Allah s.w.t..
Bukan kepada yang kuasa - penguasa perusahaan, kalau dikembalikan hanya kepada mahkluk, ya percuma gak bakal ada hikmahnya. Harus diserahkan kepada yang punya kehendak adalah Allah”. Tambahnya dengan bersemangat.
Kemudian dengan bersungut-sungut “Karena diomelin isteri terus setiap pagi, udah aja berangkat kerja pagi-pagi”
Welhadalah, saya kira udah makrifat, lha kok jebul masih podo wae karo aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar