Laman

Selasa, 03 Mei 2011

PUASA KUNANG-KUNANG

Entah sudah berapa kali dalam usianya yang mendekati 40 tahun itu Budi menjalani puasa Ramadan. Barangkali sudah lebih dari 25 kali. Puasa Ramadan sudah menjadi hal yang rutin yang tiap tahun dijalaninya dengan ikhlas. Mungkin karena kerutinan itu Budi tidak pernah merasakan sesuatu yang khas, atau sesuatu yang dicatat  dengan penuh perhatian, Pokoknya puasa , ya puasa itu kewajiban dari Tuhan yang tentunya baik sekali jika dijalankan.
Namun awal puasa tahun ini dialami oleh Budi dengan catatan yang mengesankan. Pertemuannya dengan seorang tetangga jauh membuat Budi merenung, Pak Kasmin tetangga jauh itu, minta pertimbangan Budi menyangkut ibadah puasa.
"Mas Budi, sampean yang sering ngaji, tolong beri penjelasan atas pertanyaan saya ini" kata Pak Kasmin
"Kalau bisa saya senang melakukannya Bagaimana, Pak? jawab Budi.
"Menurut Sampean, orang seperti saya ini harus puasa atau tidak?
"Sampean tahu siapa dan bagaimana saya, bukan?
Budi tertegun, Dia tahu betul siapa Pak Kasmin. Usia jelas diatas lima puluh. Badannya semampai atau jelasnya kurus langsing. Tulang pipinya menonjol, kulitnya hitam karena terlalu sering terjerang matahari. 
Pak Kasmin tinggal bersama anak-isterinya dalam rumah lapuk, hanya dua atau tiga meter dari kali dan itupun tanah milik orang lain. Dan untuk menghidupi diri dan keluarganya, Pak Kasmin yang sudah tua itu bekerja sebagai penarik becak.
Dalam pikiran Budi perputar, seorang tukang becak harus mengeluarkan tenaga 4 ribu sampai 5 ribu kalori setiap hari. Tenaga sebanyak itu bisa dipasok melalui makanan ketika sahur ditambah kalori laten  dalam tubuh yang tersimpan sebagai lemak. Seorang yang cukup makan dan cukup cadangan lemak secara teoritik mampu menjadi tukang becak yang berpuasa disiang hari. Namun bagaimana dengan Pak Kasmin?
Sebelum Budi berkata sesuatu, Pak Kasmin menyambung ucapannya lebih jauh.
"Begini Mas Budi, Saya sebenarnya ingin menunaikan puasa. Tetapi saya sering tak bisa makan sahur karena , ya, namanya tukang becak, rezeki sangat tidak pasti. Bila kebetulan tak bisa makan sahur, mata saya sering berkunang-kunang selagi narik becak. Itulah, maka saya ingin bertanya  orang seperti saya harus puasa atau tidak?"
"Pertanyaanmu tak bisa saya jawab, Pak Kasmin. Saya  minta maaf"
Barangkali  orag lain bisa menjawab pertayaan Pak Kasmin. Namun  Budi sungguh tak bisa melakukannya.
Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya, seakan dengan paksa membuka mata Budi akan suasana  sekeliling. Hatinya sendiri kini bertanya apakah artinya puasa bila ada tetangga yang tak bisa menunaikan ibadah itu lantaran kurang bekal. Apakah artinya puasa bila seorang tetangga disebelah rumah tak bisa makan sahur lantaran tak punya beras.
Budi pulang. Sampai dirumah ia menyuruh anaknya mengatar beberapa kilo beras kepada Pak Kasmin dengan harapan keluarga itu nanti malam bisa makan sahur. Namun Budi merasa beberapa kilo beras itu sama sekali bukan jawaban yang memadai atas pertanyaan Pak Kasmin, "Apakah orang seperti saya harus berpuasa?.  Mata saya sering berkunang-kunang"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar