Laman

Rabu, 01 Mei 2013

MAS KRIS



             Suasana itu, dalam keheningan malam yang mencekam, dimana setiap orang telah yakin tentang ‘Tuhan’ nya, tampaklah sesosok tubuh seorang karya-wan pabrik yang sempat dirumahkan. Dia terlihat gelisah merenungi nasibnya dan sesekali menghitung sisa umurnya. Siapa dia ? Belakangan ini, sosok tubuh itu diketahui nama panggilannya Mas Kris.

               Mas Kris sudah  lama ingin belajar tentang agama islam. Maklum, selama ini dia dibesarkan dilingkungan keluarga Kristen hingga dewasa, sejak masih kanak-kanank sudah sering diajak oleh Neneknya pergi ke Gereja bersama sanak saudaranya, dan ikut sekolah minggu juga.
Bahkan ketika rumahnya dipakai sebagai gereja Pantekosta, dia kadangkala masih ikut mengiringi lagu-lagu gereja dengan gitar. Padahal waktu itu Mas Kris sudah mengaku beragama islam, ‘islam abangan’. Karena menurut penga-kuannya, di lingkungan kampung tempat tinggalnya, di daerah sekitar kota Solo, banyak orang ‘islam abangan’ yaitu mengaku beragama islam tapi belum shalat dan Mas Kris bergaul di kelompok itu.
              
               Dalam perjalanannya yang panjang ini, Mas Kris setelah beristri anak seorang Haji ia  mencoba mendalami sendiri agama Islam dengan cara membaca dan mendengar ceramah-ceramah para ulama sehingga sedikit demi sedikit dia mengenal tetapi belum memahami dengan sepenuhnya serta bagaimana pengamalannya.
Pernah tinggal di Bandung, ikut pengajian di komplek tempat tinggalnya, bersama Kyai Aden dari Jelegong – Soreang, disitulah banyak mendapat masukan ceramah langsung tentang agama Islam. Tapi sayang tidak berlangsung lama, keadaan mulai berubah setelah ada “Pengrumahan” di perusahaan tempatnya bekerja.
Dia masih berpikiran, apakah dirinya harus mencari yang instant atau yang original ?. Kalau yang original, berarti dirinya harus belajar bahasa Arab dulu sedangkan yang instant cukup hanya baca terjemaahannya saja. Tetapi tentunya tidak ada belajar agama dengan cara instant, yang pasti shalat bacaan dan doanya harus berbahasa arab. Bingung!              
              
               Mas Kris lama berdiri di depan cermin. Dia mengamati wajah dan elemen tubuhnya. Pikirnya, kok semakin tua dan rambutnya sudah memutih semua. Dia mengklaim dirinya karena memang sejak usia remaja rambutnya sudah beruban. Tapi ketika melihat kulitnya makin keriput, dia baru menyadari kalau usianya kini sudah menjelang setengah abad. Terbesitlah ketakutannya, bagaimana dengan sisa umurnya, apa yang sudah diperbuat selama ini untuk pulang ke hadirat Illahi ? Sudah mempunyai bekal apa ?. Begitulah pertanyaannya yang selalu mengganjal di hatinya akhir-akhir ini.
              
               Mas Kris makin tampak gelisah. Sudah lama dia membiarkan keadaan ini dan semua berjalan dengan sendirinya. Hanya mengunakan hasil pikirannya untuk meniti jalan kehidupannya sebagai tulang punggung keluarga. Tujuan-nya hanya satu, ingin anak-anaknya sekolah tinggi-tinggi bagaimanapun caranya, bahkan tidak melihat keadaan dan kemampuan finansialnya. Semakin lama tampak semakin tidak menentu keadaannya, pasti ada yang tidak beres pikirnya.
Dari apa yang selama ini dijalaninya, ibaratnya tanpa arah yang tujuan yang jelas seperti berjalan tanpa aturan hanya kepentingan pribadi semata.
               Sekarang Mas Kris merasa terhimpit dengan keadaan hidupnya. Kegelisahannya semakin memuncak, dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya ingin sendiri sa’at ini, ingin mengutarakan unek-uneknya melalui senandung syair lagu yang sederhana dia ciptakan.
              
               Rambut memutih,
               Tanda-tanda jaman,
               Semakin tua,
               Tak terasa kita,
               Tambah usia,
              
               Rambut memutih,
               Tambah wibawa,
               Smakin bijaksana,
               Seharusnya dalam
               Tindak tanduknya,

Reff.  Kini Daku Baru Menyadari,
          Lama Berjalan di malam yang
          gelap,
          Tanpa Pelita Menerangi Diri,
          Resah Gelisah Hati Ini,

               Teratatih-tatih,
               Aku berjalan,
               Menyusuri bumi,
               Kudambakan sinar,
               Terang dihati,

               Tentunya, sebuah lagu yang menggambarkan dirinya. Serba sibuk dengan kebutuhan duniawi yang semakin lama tidak membuatnya bijaksana. Dalam perjalanan hidup-nya itu, dia mengaku hidup tanpa adanya petunjuk kebenaran, ibarat orang berjalan di malam hari tanpa penerangan. 
              
Mencari Jati Diri
              
               Menyadari kegelisahan jiwanya yang kian gersang dan roda kehidupannya yang tidak jelas kemana arah tujuannya, kini Mas Kris di dalam hatinya mendambakan sinar terang Nur Illahi. Menurut kesadar-annya, kehidupan di dunia ini pada hakekatnya sedang meniti jembatan Sirotollmustaqin (meniti jalan lurus). Jika mampu melewati dengan selamat maka kemuliaan yang diraihnya (surga), tapi jika gagal dalam meniti perjalanannya maka akan jatuh kejurang kenistaan dan kesengsaraan (neraka).
              
               Untuk menjawab kesadarannya itu, di bulan Ramadhan (2005) Mas Kris berjalan dan terus berjalan mencari siapapun yang bisa diminta untuk memberikan bimbingannya. Dia berjalan perlahan menyusuri koridor pabriknya yang sudah 23 tahun memberikan nafkah sebagai tumpuan hidupnya.
              
               Diperhatikan setiap informasi yang ditempel dikaca. Ketika melihat ada selembar kertas ukuran A4 dari Pengajian Al Ilham tentang Quantum Leap, hatinya berdebar dan tergerak untuk mengikuti pengajian itu. Dibenaknya terpikir,  inilah cara cepat menuju ahkerat  dan aku ingin mendapatkan buahnya “.
              
               Akhirnya, pengkajian ilmu hakekat yang diadakan setiap hari Senin dan Kamis selama bulan Puasa Ramadhan menjadi pilihan mas Kris. Mas Kris sadar, agama adalah petunjuk. Selama ini, jika berbuat baik karena butuh pengakuan dari orang lain untuk menjadi orang baik, atau takut penilaian orang lain tetapi bukan karena Allah. Niatnya  kini diluruskan menjadi niat yang benar.
              
Terbuka Tabir

               Mas Kris juga sadar tidak dapat menuntut ilmu agama dengan semestinya. Namun dia berusaha mencoba memahami dan mencari makna dan hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai yang Islami. Karena menurut kesadarannya agama lebih menuntut pada tindakan pengamalan, bukan hanya berilmu tinggi atau kecanggihan ilmu dari pemeluknya.
              
               Dia berdalih seseorang bisa menjadi pemeluk yang baik tanpa harus menjadi ahlinya. Bahkan Mas Kris tidak bisa berdoa pakai bahasa Arab dan tidak ada doa yang dia hafal, doanya pun diambil dari nyanyian lagu jawa tahun 70-an yang sering dia dengar, “Duh Gusti Mugi Paringono Mergi, Kangge Nerusaken Lampah Ingkang Peteng Meniko”. (Ya Alah semoga saya diberi petunjuk untuk meneruskan kehidupanku yang saat ini jalan itu gelap bagiku)
              
               Begitulah, doa yang selalu disampaikan Mas Kris untuk meminta petunjuk dari Allah SWT disertai bacaan tasbih Istigfar dan bacaan Laa ilaha illallah. Tetapi dia terus berusaha untuk belajar guna memahami kandungan Al-Qur’an.
              
               “Meskipun susah menghafal-nya, dan kadangkala salah bunyinya tapi yang penting niatnya. Dan soal diterima tidaknya, itu terserah Tuhan yang menilai. Lagi  pula bukan bunyi nya yang lebih penting adalah ketulusan hati, dan juga bukan kefasihan lidahnya “ hibur Mas Kris pada dirinya.
           
Tampaknya mas Kris mulai terbuka kecerdasannya setelah bergabung dalam pengajian Quantum Leap yang diselenggarakan  Al-Ilham. Dia merasa bangkit dari tidur dan dari kelengahannya selama ini. Dia mengaku baru taraf terpesona dengan keagungan Sang Khalik, Allah SWT.
           
Yang pasti setelah mendapat pencerahan, dari para pem-bimbing rohani di pengajian itu. Dia baru memahami arti IQRA. “Bacalah, dengan nama Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia me-ngajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.
           
Seperti dikatakan perintis di pengajian Quantum Leap,“di pengajian ini tidak ada yang merasa menjadi guru, siapapun boleh menjadikan pelajaran dari apa yang diper-oleh dalam perjalanannya keruhaniannya menuju Allah. Namun  yang lebih penting adalah mengambil makna setiap kebaikan dari seseorang yang tidak bertentangan dengan hukum Syara.
Memang selama ini mas Kris mendapat keterangan dari ulama bahwa orang yang tidak memiliki guru, maka gurunya adalah syetan. Tapi untuk orang yang mau belajar dan berjalan atas dasar ilmu pengetahuan dengan membaca Al-Qur’an dan Al-Hadist, bukan berarti gurunya kertas yang berisi tulisan sebagai petunjuk . Para peserta di pengajian Quantum Leap selalu menekankan bahwa guru adalah sesuatu yang dapat menyampaikan ilmu baik secara  syariat, torekat, hakikat dan marifat (dengan landasan Al Quran dan Al Hadist,).
           
Dengan pengetahuan yang cukup, yang dimiliki para pejalan keruhanian, Mas Kris mulai mempraktekkan ilmu yang diajarkan mereka cara-cara berserah diri yang ikhlas kepada Allah dengan tuntunan syari’at & hakekat untuk menyelamatkan diri dari jebakan syetan. Dalam pengajiannya di Al-Ilham yang dipandu oleh seorang guru  dibahas berbagai ilmu hakekat dan marifat, dengan cara memberikan keterangan sesuai yang disyariatkan. Perjalanan kehidupan sehari-hari para peserta kemudian didiskusikan untuk lebih mengetahui dan mengenal skenario Allah terhadap tugas dan fungsi manusia di muka bumi.
           
Mendapatkan Buahnya

Itulah buah yang dikehendaki Mas Kris dalam mengarungi sisa hidupnya. Maka melalui pengajian ini semakin mudahlah seseorang untuk memulai berkomunikasi dan berjalan menuju kepada Alah SWT. Mas Kris-pun berjanji atas kesadarannya bahwa dia akan kembali kepadaNya, dan memulainya sekarang, detik ini ... bukan besok !.
           
Allah telah bertutur kata kepada semua makhluknya, Allah telah mengajarkan kepada manusia tentang asma, sifat dan af’al Alah, termasuk kita untuk minta petunjuk bimbingan (berguru) kepada Allah dalam segala hal, karena Dialah Yang Maha Menge-tahui akan segala sesuatu yang nyata maupun yang ghaib.
           
Mas Kris mencoba berjalan mengarungi kehidupan alam ini meski dia belum paham kandungan dalam AL-Qur’an. Perjalanan spiritualnya menuju Allah SWT, namun  mendapat dukungan dari kawan-kawan lainnya yang nota bene dilahirkan oleh kedua orang tuanya yang beragama islam.
              
               Sadar dari keterjagaannya dia dapat menyadari kesalahan atau dosa yang telah diperbuat, sehingga muncul perasaan menyesal, yang kemudian membangkitkan dirinya untuk meninggalkan dosa-dosanya dan berjuang untuk mendapat kebaikan dan kebenaran dari keridhoan Allah SWT.
Ya Allah,   Jadikanlah Cahaya
Di hatiku, Di Kuburku, Di Hadapanku.
Di belakangku, Di kanan - kiriku,
Di atasku, Dibawahku,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar