Suasana itu, dalam keheningan malam yang
mencekam, dimana setiap orang telah yakin tentang ‘Tuhan’ nya, tampaklah
sesosok tubuh seorang karya-wan pabrik yang sempat dirumahkan. Dia terlihat gelisah merenungi
nasibnya dan sesekali menghitung sisa umurnya. Siapa dia ? Belakangan ini,
sosok tubuh itu diketahui nama panggilannya Mas Kris.
Mas Kris sudah lama
ingin belajar tentang agama islam. Maklum, selama ini dia dibesarkan
dilingkungan keluarga Kristen hingga dewasa, sejak masih kanak-kanank sudah
sering diajak oleh Neneknya pergi ke Gereja bersama sanak saudaranya, dan ikut
sekolah minggu juga.
Bahkan ketika rumahnya dipakai sebagai gereja
Pantekosta, dia kadangkala masih ikut mengiringi lagu-lagu gereja dengan gitar.
Padahal waktu itu Mas Kris sudah mengaku
beragama islam, ‘islam abangan’. Karena menurut penga-kuannya, di lingkungan
kampung tempat tinggalnya, di daerah sekitar kota Solo, banyak orang ‘islam abangan’ yaitu
mengaku beragama islam tapi belum shalat dan Mas Kris bergaul di kelompok itu.
Dalam perjalanannya yang panjang
ini, Mas Kris setelah beristri anak seorang Haji ia mencoba mendalami sendiri agama Islam dengan
cara membaca dan mendengar ceramah-ceramah para ulama sehingga sedikit demi
sedikit dia mengenal tetapi belum memahami dengan sepenuhnya serta bagaimana
pengamalannya.
Pernah
tinggal di Bandung , ikut pengajian di komplek
tempat tinggalnya, bersama Kyai Aden
dari Jelegong – Soreang, disitulah banyak mendapat masukan ceramah langsung tentang
agama Islam. Tapi sayang tidak berlangsung lama, keadaan mulai berubah setelah
ada “Pengrumahan” di perusahaan tempatnya bekerja.
Dia masih
berpikiran, apakah dirinya harus mencari yang instant atau yang original ?.
Kalau yang original, berarti dirinya harus belajar bahasa Arab dulu sedangkan
yang instant cukup hanya baca terjemaahannya saja. Tetapi tentunya tidak ada
belajar agama dengan cara instant, yang pasti shalat bacaan dan doanya harus
berbahasa arab. Bingung!
Mas Kris lama berdiri di depan
cermin. Dia mengamati wajah dan elemen tubuhnya. Pikirnya, kok semakin tua dan
rambutnya sudah memutih semua. Dia mengklaim dirinya karena memang sejak usia
remaja rambutnya sudah beruban. Tapi ketika melihat kulitnya makin keriput, dia baru
menyadari kalau usianya kini sudah menjelang setengah abad. Terbesitlah
ketakutannya, bagaimana dengan sisa umurnya, apa yang sudah diperbuat selama
ini untuk pulang ke hadirat Illahi ? Sudah mempunyai bekal apa ?. Begitulah
pertanyaannya yang selalu mengganjal di hatinya akhir-akhir ini.
Mas
Kris makin tampak gelisah. Sudah lama dia membiarkan keadaan ini dan semua
berjalan dengan sendirinya. Hanya mengunakan hasil pikirannya untuk meniti
jalan kehidupannya sebagai tulang punggung keluarga. Tujuan-nya hanya satu,
ingin anak-anaknya sekolah tinggi-tinggi bagaimanapun caranya, bahkan tidak
melihat keadaan dan kemampuan finansialnya. Semakin lama tampak semakin tidak
menentu keadaannya, pasti ada yang tidak beres pikirnya.
Dari apa yang selama ini dijalaninya, ibaratnya tanpa
arah yang tujuan yang jelas seperti
berjalan tanpa aturan hanya kepentingan pribadi semata.
Sekarang
Mas Kris merasa terhimpit dengan keadaan hidupnya. Kegelisahannya semakin
memuncak, dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya ingin sendiri sa’at ini,
ingin mengutarakan unek-uneknya melalui senandung syair lagu yang sederhana dia
ciptakan.
Rambut memutih,
Tanda-tanda jaman,
Semakin tua,
Tak
terasa kita,
Tambah usia,
Rambut memutih,
Tambah wibawa,
Smakin bijaksana,
Seharusnya dalam
Tindak tanduknya,
Reff. Kini Daku Baru Menyadari,
Lama Berjalan di malam yang
gelap,
Tanpa Pelita Menerangi Diri,
Resah Gelisah Hati Ini,
Teratatih-tatih,
Aku
berjalan,
Menyusuri
bumi,
Kudambakan
sinar,
Terang dihati,
Tentunya, sebuah lagu yang
menggambarkan dirinya. Serba sibuk dengan kebutuhan duniawi yang semakin lama
tidak membuatnya bijaksana. Dalam perjalanan hidup-nya itu, dia mengaku hidup
tanpa adanya petunjuk kebenaran, ibarat orang berjalan di malam hari tanpa
penerangan.
Mencari Jati Diri
Menyadari kegelisahan jiwanya
yang kian gersang dan roda kehidupannya yang tidak jelas kemana arah tujuannya,
kini Mas Kris di dalam hatinya mendambakan sinar terang Nur Illahi. Menurut kesadar-annya,
kehidupan di dunia ini pada hakekatnya sedang meniti jembatan Sirotollmustaqin
(meniti jalan lurus). Jika mampu melewati dengan selamat maka kemuliaan yang
diraihnya (surga), tapi jika gagal dalam meniti perjalanannya maka akan jatuh
kejurang kenistaan dan kesengsaraan (neraka).
Untuk
menjawab kesadarannya itu, di bulan Ramadhan (2005) Mas Kris berjalan dan terus
berjalan mencari siapapun yang bisa diminta untuk memberikan bimbingannya. Dia
berjalan perlahan menyusuri koridor pabriknya yang sudah 23 tahun memberikan
nafkah sebagai tumpuan hidupnya.
Diperhatikan setiap informasi yang ditempel dikaca. Ketika
melihat ada selembar kertas ukuran A4 dari Pengajian Al Ilham tentang Quantum
Leap, hatinya berdebar dan tergerak untuk mengikuti pengajian itu. Dibenaknya
terpikir, “ inilah cara cepat menuju
ahkerat dan aku ingin mendapatkan
buahnya “.
Akhirnya, pengkajian ilmu hakekat yang
diadakan setiap hari Senin dan Kamis selama bulan Puasa Ramadhan menjadi
pilihan mas Kris. Mas Kris sadar, agama adalah petunjuk. Selama ini, jika
berbuat baik karena butuh pengakuan dari orang lain untuk menjadi orang baik,
atau takut penilaian orang lain tetapi bukan karena Allah. Niatnya kini diluruskan menjadi niat yang benar.
Terbuka Tabir
Mas Kris juga sadar tidak dapat menuntut ilmu agama
dengan semestinya. Namun dia berusaha mencoba memahami dan mencari makna dan
hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai yang Islami. Karena menurut
kesadarannya agama lebih menuntut pada tindakan pengamalan, bukan hanya berilmu
tinggi atau kecanggihan ilmu dari pemeluknya.
Dia berdalih seseorang bisa menjadi pemeluk yang baik
tanpa harus menjadi ahlinya. Bahkan Mas Kris tidak bisa berdoa pakai bahasa
Arab dan tidak ada doa yang dia hafal, doanya pun diambil dari nyanyian lagu
jawa tahun 70-an yang sering dia dengar, “Duh Gusti Mugi Paringono Mergi,
Kangge Nerusaken Lampah Ingkang Peteng Meniko”. (Ya Alah semoga saya
diberi petunjuk untuk meneruskan kehidupanku yang saat ini jalan itu gelap
bagiku)
Begitulah, doa yang
selalu disampaikan Mas Kris untuk meminta petunjuk dari Allah SWT disertai
bacaan tasbih Istigfar dan bacaan Laa ilaha illallah. Tetapi dia terus
berusaha untuk belajar guna memahami kandungan Al-Qur’an.
“Meskipun susah menghafal-nya, dan kadangkala salah
bunyinya tapi yang penting niatnya. Dan soal diterima tidaknya, itu terserah
Tuhan yang menilai. Lagi pula bukan
bunyi nya yang lebih penting adalah ketulusan hati, dan juga bukan kefasihan
lidahnya “ hibur Mas Kris pada dirinya.
Tampaknya mas Kris mulai
terbuka kecerdasannya setelah bergabung dalam pengajian Quantum Leap yang
diselenggarakan Al-Ilham. Dia merasa bangkit dari tidur dan dari
kelengahannya selama ini. Dia mengaku baru taraf terpesona dengan keagungan
Sang Khalik, Allah SWT.
Yang pasti setelah mendapat pencerahan, dari para
pem-bimbing rohani di pengajian itu. Dia baru memahami arti IQRA. “Bacalah,
dengan nama Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan
perantaraan kalam, Dia me-ngajarkan kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya”.
Seperti dikatakan perintis di pengajian Quantum
Leap,“di pengajian ini tidak ada yang merasa menjadi guru, siapapun boleh
menjadikan pelajaran dari apa yang diper-oleh dalam perjalanannya keruhaniannya
menuju Allah. Namun yang lebih penting adalah mengambil makna setiap
kebaikan dari seseorang yang tidak bertentangan dengan hukum Syara.
Memang selama ini mas Kris mendapat keterangan
dari ulama bahwa orang yang tidak memiliki guru, maka gurunya adalah syetan. Tapi
untuk orang yang mau belajar dan berjalan atas dasar ilmu pengetahuan dengan
membaca Al-Qur’an dan Al-Hadist, bukan berarti gurunya kertas yang berisi
tulisan sebagai petunjuk . Para peserta di pengajian Quantum Leap selalu
menekankan bahwa guru adalah sesuatu yang dapat menyampaikan ilmu baik
secara syariat, torekat, hakikat dan
marifat (dengan landasan Al Quran dan Al Hadist,).
Dengan pengetahuan yang cukup, yang dimiliki para
pejalan keruhanian, Mas Kris mulai mempraktekkan ilmu yang diajarkan mereka cara-cara
berserah diri yang ikhlas kepada Allah dengan tuntunan syari’at & hakekat
untuk menyelamatkan diri dari jebakan syetan. Dalam pengajiannya di Al-Ilham
yang dipandu oleh seorang guru dibahas
berbagai ilmu hakekat dan marifat, dengan cara memberikan keterangan sesuai
yang disyariatkan. Perjalanan kehidupan sehari-hari para peserta kemudian
didiskusikan untuk lebih mengetahui dan mengenal skenario Allah terhadap tugas
dan fungsi manusia di muka bumi.
Mendapatkan Buahnya
Itulah buah yang
dikehendaki Mas Kris dalam mengarungi sisa hidupnya. Maka melalui pengajian ini
semakin mudahlah seseorang untuk memulai berkomunikasi dan berjalan menuju
kepada Alah SWT. Mas Kris-pun berjanji atas kesadarannya bahwa dia akan kembali
kepadaNya, dan memulainya sekarang, detik ini ... bukan besok !.
Allah telah bertutur
kata kepada semua makhluknya, Allah telah mengajarkan kepada manusia tentang
asma, sifat dan af’al Alah, termasuk kita untuk minta petunjuk bimbingan
(berguru) kepada Allah dalam segala hal, karena Dialah Yang Maha Menge-tahui
akan segala sesuatu yang nyata maupun yang ghaib.
Mas Kris mencoba berjalan
mengarungi kehidupan alam ini meski dia belum paham kandungan dalam AL-Qur’an.
Perjalanan spiritualnya menuju Allah SWT, namun mendapat dukungan dari kawan-kawan lainnya
yang nota bene dilahirkan oleh kedua orang tuanya yang beragama islam.
Sadar dari keterjagaannya dia dapat menyadari
kesalahan atau dosa yang telah diperbuat, sehingga muncul perasaan menyesal,
yang kemudian membangkitkan dirinya untuk meninggalkan dosa-dosanya dan
berjuang untuk mendapat kebaikan dan kebenaran dari keridhoan Allah SWT.
Ya Allah, Jadikanlah Cahaya
Di
hatiku, Di Kuburku, Di Hadapanku.
Di
belakangku, Di kanan - kiriku,
Di
atasku, Dibawahku,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar