Laman

Selasa, 28 September 2010

NENEK DAN SUMBU KOMPOR


Kisah ini pengalaman dari: Bp. Tata

Sepulang dari Pasar baru, saya dan istri naik angkot yang kebetulan ada penumpang lain seorang nenek pakai kerudung membawa bungkusan, karena penumpang hanya bertiga sehingga saya dan istri bebas ngobrol dengan dia, inilah mengalamannya :
Saya tanya nenek :”Nenek dari mana ?”
Nenek :”Saya jualan ini”, sambil mengeluarkan sumbu kompor dari bungkusan itu, Istri nyeletuk :”Wah mengapa jualan sumbu kan sekarang mah pada pakai kompor gas”

Nenek : “Ini mah Cuma perantara saja yang ngasih rizki mah Allah !!”
Saya dan Istri kaget mendengar jawaban yang tidak disangka-sangka itu, inilah yang sering saya diskusikan dengan istri saya. Kita sering terjebak oleh sebab datangnya rezeki,padahal Allah sering mengabaikannya dengan mendatangkan rezeki yang tidak disangka-sangka, sebab itu hanyalah perantara kata si nenek.
Saya :'Berapa usia Nenek, tinggal dimana ?
Nenek :'72 tahun, tinggal di Cimahi dengan keponakan karena tidak punya suami juga anak, saya tidak mau meminta-minta makanya jualan, apakah pernah hidup sengsara seperti saya ?
Saya dan istri saya kaget lagi dengan pertanyaan itu, isteriku diam saja.
Nenek :”Saya terbiasa sengsara, kalau dapat rezeki saya makan bila tidak, saya masak beras dengan air diperbanyak, saya minum airnya besok ditambah lagi airnya untuk diminum, itu sudah cukup untuk mengisi perut” sambil tersenyum penuh kepasrahan. 
Saya tidak melihat kesedihan sedikitpun, dia polos tapi bersemangat untuk usaha, luar biasa, saya tidak bisa komentar.
Nenek bicara lagi :”nikmati saja apa adanya, jangan banyak pikiran, jangan banyak mengeluh, nanti sakit panas dingin, usaha terus selagi mampu”. Dia menasehati saya.
Saya lihat ada kue dibungkusan mau jatuh: “Nenek, kuenya tuh mau jatuh!”.
Neneh :”oh ini saya beli untuk anak tetangga, mereka suka menyambut kalau saya datang”, walah si nenek yang sengsara ini masih suka ngasih, sementara saya kalau mau ngasih orang masih banyak mikiiiiiirrr.
Nenek :”mau minum nih duluan, saya mah nanti sisanya” si nenek memberikan botol air mineral yang masih baru kepada istri saya. Istri cuma membukanya buat dia. Selanjutnya kami menikmati gorengan yang dibeli istri.
Nenek : “sudah sampai, hari minggu sengaja saya pulang siang mau pengajian”.
Angkot pun berhenti, si nenek turun sambil ngasih ongkos Cuma ditolak oleh supir, angkot maju lagi sementara si Nenek berteriak mendo'akan supir sebagai rasa terimakasih...

Si nenek sudah merasakan cukup dengan rizki yang telah diterimanya, beliau tidak berfikir bahwa jualan sumbu kompor akan laku atau tidak. Padahal banyak orang sudah tidak membutuhkan lagi, pada kondisi jaman sekarang ini. Tapi yang dia butuhkan adalah berusaha mencari rizki sesuai dengan kemampuan, Allah akan menilai usaha seseorang karena kesabaran dan keikhlasan dalam mengarungi kehidupan. Dan si Nenek telah bersandar hanya kepada Allah dengan apa-apa yang selama ini lakukan dan beliau juga rajin pengajian setiap hari minggu.

 " Bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah , sedang ia berbuat kebajikan maka baginya pahala disisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati " ( QS . al Baqarah : 112 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar