Mudik berlebaran, bersilaturahim ke sedulur dari keluarga trah Wiryo Wikromo di Laweyan (kami sekeluarga dari Alm. Bp. Enersi Sudarno). Perjalanan kali ini sekaligus wisata kuliner pulang kampung halaman di SOLO.
Kampung Mutihan dekat Tugu gentong adalah menjadi kenangan terindah dimana aku dibesarkan oleh kedua Kakek dan Nenekku.
Sampai di Solo kami sekeluarga menginap di Hotel Mangkuyudan, masih ada satu kamar kosong ditambah extra bed, seharga Rp. 290.000 per malam - rencanakan kami tinggal 5 hari.
Pertama berkunjung ke rumah Pak De Tjokro Sularno (kakak dari ayahku “Enersi Sudarno”) sudah berusia 91 tahun, yang tinggal di Sondakan. Kemudian dilanjutkan kerumah Pak Lik Sutikno (adik dari ayahku “Enersi Sudarno ) yang tinggal di Premulung (depan Sekolah Dasar Premulung)
Kota Solo adalah kota yang tak pernah tidur, kenapa dikatakan seperti itu karena dari pagi hari orang jualan makanan lilih berganti. Dari waktu pagi orang jualan sego liwet, jual bubur atau sego pecel , sambel tumpang , sambel goreng, ketan bubuk/juruh dan lain-lain sudah habis pada jam 10 pagi, dilanjutkan siang sudah ada aneka makanan di tempat –tempat yang ada. Sore hari sudah ada Lesehan atau angkringan sampai dini hari.
Yang disinggahi dalam wisata kuliner pertama kali adalah – Pagi hari menuju ke Pasar Jongke mencari sego liwet yang jualannya sudah sepuh (nenek2) tapi masih kuat dan sehat.
Hari berikutnya tidak lupa – mencoba Rumah makan baru Dapur Solo di Purwosari dekat palang sepur dan POM bensin yang membuat macet jalan di dekat palang kereta api, mengingatkan saya, disitu pernah terjadi tragedy rombongan bus tertabrak Kereta.
Tidak jauh dari situ, di malam harinya mampir minum susu murni Boyolali dan sate kikil atau sate telur burung puyuh.
Jangan lupa, menuju Lapangan Manahan beli Timlo dan Selat Solo, disana ada juga es puter yang berkeliling di sekitar lapangan Manahan yang teduh. Kota yang asri indah ada tempat kanopi untuk duduk dan santai dari besi ukir.
Dipastikan mampir ke baso Lapangan Sriwaru (Pak Min), - setiap singgah disini selalu penuh laris, menurut isteriku namanya baso comot ; kenapa dibilang begitu karena basonya dicomot terus dipotong-potong . Sekarang, ternyata ada yang lain baso Lapangan Sriwaru di bagian utara.
Jalan-jalan ke Kampung batik laweyan – daerah Setono , geliat batik saat ini menjadi obyek kunjungan wisata batik yang unik disetiap gedong atau rumah kuno di sulap menjadi distro-distro batik. Dahulu kala sangat susah masuk rumah para gedongan ini laweyan karena sangat menjaga rahsia batik masing-masing yang diproduksinya. Dengan adanya geliat batik maka sekarang terbuka untuk umum bahkan tata-cara membuat batik atau mau praktek bisa diperoleh disini. Di kampong batik Laweyan ada sebuah tempat gallery lukisan kepunyaan seorang seniman – pelukis bernama Wiryono. Dimulai aliran naturalis dan menuju surialis ; lukisannya sungguh menawan bagi yang melihatnya seakan –akan ada ruhnya berdaya magis. Banyak lukisan para tokoh dari tokoh seniman sampai politik tokoh ilmuwan pernah dia lukis di gallerynya. Yang menarik lukisan tokoh seorang pahlawan memakai seragam kebesaran angkatan darat “ Enersi Sudarno” sangat berenergi sesuai dengan nama tokoh itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar