Laman

Selasa, 25 Oktober 2011

PERJALANAN ROHANI



Perjalanan kerohanian untuk mencapai kakekat bagi saya tak ubahnya perjalanan diri kta untuk tidur. Segampang itu ? Justru karena perbandingannya dengan tidur menjadi gampang-gampang susah. karena tidur itu alami. Siapapun dia pasti bisa tidur. Yang bodoh yang alim yang kaya yang miskin yang bayi yang tua….semua pasti bisa tidur dengan mudahnya. Lho kok diperbandingkan dengan perjalanan spiritualitas ?
Coba perhatikan ini. Kalau orang mau tidur membawa ilmu teori tentang tidurnya, maka tidak bisa tidur dia, bahkan insomnia. Kalau tidur dipikirkan maka tidak juga berhasil tidur, hanya menjadi pemikir soal tidur namun tidak pelaku tidur. Kalau tidur dengan serius membaca buku tentang ilmu ridur maka dia akan terjebak dalam persepsinya sendiri, bukan meng-’alami’ hakekat tidur itu sendiri. Kalau tidurnya dengan masih menghafal ilmu perjalanan tidur, maka tidurnya menjadi tersasar kepada khayalan seakan-akan tidur padahal bukan atau schizophrenia. Kalau tidurnya masih bertanya bagaimana cara untuk tidur, maka ia tidak akan menemukan tidur itu sendiri. Kalau tidur dibahas dan didiskusikan maka ia akan menjadi tukang debat.
Perjalanan rohani adalah keinginan kita namun untuk selanjutnya biarkan Allah sendiri yang menuntun. Ya, bagaikan tidur. Kita ‘loss’ …. biarkan Dia yang membimbing kita. “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rela dan diridloiNya.” Itulah. Ketika kita bertekad akan meng-’alami’ sendiri perjalanan rohani kita untuk menemui-Nya, yang adalah tan kinoyo ngopo, laista kamislihi, kita tinggal rela saja, ikhlas saja terhadap-Nya. Kita tidak disuruh membawa ilmu kita pun juga tidak amal kita. Bersandar saja pada welas asih-Nya.
Kita perhatikan tokoh-tokoh yang sudah menjadi legenda. Jalaludin Rumi berputar-putar mencari posisi rohani agar menemukan Sang Maha Ada, Al-Ahad. Kemudian Al Junaid mencari kesejatian dirinya hingga beliau menemukan-Nya dalam dirinya sendiri. Mohammad Iqbal yang terkenal dengan penyatuannya dengan butir-butir atom materi sehingga dia mengatakan akulah alam semesta (makrokosmos dalam mikrokosmos). Dan….. sang iblis, mantan penghulu sorga. Sampai sekarang dia tetap duduk bersimpuh dihadapan Allah dengan tetap mengakui dan menyatakan bahwa Allah Tuhannya yang Ahad, Sang Esa, Sang Maha Perkasa dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Iblis berdoa “fi bi ‘izzatika……“Dengan keagunganMu aku memohon, kata iblis, untuk menyesatkan manusia (Shaad 82-83).
Lalu apa perbedaan antar si iblis dengan para pendaki kerohanian itu ? Tentu perbedaan yang mendasar adalah ketika iblis merasa dirinya “ana khoiru mihu”, aku lebih baik darinya. Kesombongan. Kesombongan itu yang menjadi penyebab iblis dilaknat oleh Allah. Sedangkan para pendaki alam kerohanian, alam kesejatian,ngelmu sejati, al-haqiqoh,….mereka justru merasa fana, bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa. Bagi mereka semua merupakan anugerah Ilahi. Semua kebaikan merupakan karya Tuhan. Mereka tinggal menjadi ‘penyaksi’ yang sejati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar