Laman

Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Mei 2013

AYAH/PAPA


Beberapa waktu yang lalu saya berbincang-bincang dengan seorang rekan tentang anak-anak yang sudah menginjak dewasa. Sejak kecil anak-anak sangat dekat dengan ibunya dibanding ayahnya, akan tetapi tidak akan mengurangi kedekatan ayah sesungguhnya juga sangat dekat sama anak dan malah lebih perhatian dengan RASA.
Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut   suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..
 Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.
 Lalu bagaimana dengan Papa?
Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?
 Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,
tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
 Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil……
 Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
 Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya” , Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….
 Tapi sadarkah kamu?
 Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu pu tr i kecilnya PASTI BISA.
 Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
 Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”
 Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
 Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
 “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
 Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
 Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
  Ketika kamu sudah beranjak remaja….
  Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
 Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?
 Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga..
 Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama….
 Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
  Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’)
 Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
 Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?
  Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
 Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…
 Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut…
 Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .
 Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?
 “Bahwa pu tr i kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa”
  Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
 Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…
 Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa :)  Ketika kamu menjadi gadis dewasa….
 Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain…
 Papa harus melepasmu di bandara.
 Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?
 Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
 Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.
 Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.
 Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
  Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.
 Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
 Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…
 Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak…. Tidak bisa!”
 Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu”.
 Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
  Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
 Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
 Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”
  Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.
 Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..
 Karena Papa tahu……
 Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
  Dan akhirnya….
 Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia….
 Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
 Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa….
 Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: “Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik….. 
Pu tr i kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik…. 
Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”
  Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
 Dengan rambut yang telah dan semakin memutih….
 Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya….
 Papa telah menyelesaikan tugasnya….
  Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita…
 Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
 Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
 Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
 Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal apapun.
   Tersenyum dan bersyukurlah ketika kamu bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah hingga tugasnya selesai….
 Jika kamu mengalaminya, Kamu adalah salah satu orang yang beruntung…
  Doakan Orang Tuamu sekarang….
 Ya Allah ya Tuhanku, ampunilah dosa kedua orangtuaku.. .
 Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sejak kecil….
 amiien………
Mereka satu persatu meninggalkan rumah, karena sudah terikat dengan keluarga baru , kini setelah ayah pensiun hanya tinggal berdua lagi dengan istri yang setia mendapingi……dan sebentar lagi kami akan mengucapkan “SELAMAT JALAN” menuju kekampung rumah masa depan……

Selasa, 05 Juni 2012

EKEKUTIF BANK DAN ANAK YATIM

Seorang Eksekutif Bank dari sebuah Bank Asing ternama sedang berada dipuncak karir, yang rasanya apapun bisa ia peroleh dengan uang dan jabatan yang ia miliki saat itu. Dunia telah berada dalam genggamannya. Padahal ia mulai berkarir benar-benar dari bawah, dari seorang Office Boy hingga menjadi Vice President, Dengan posisi tersebut ia tidak lagi dihinakan, bahkan ia dipuja dan sangat dihormati.

Banyak orang beranggapan bahwa kekayaan adalah segalanya, materi akan menyelesaikan segalanya. Akan tetapi hati kecilnya tidak bisa berdusta. Ada noktah kekosongan disana. Hatinya galau dan risau memikirkan untuk apa semua pencapaian, prestasi dan kekayaan yang selama ini ia peroleh. Ia sering mengalami kekosongan hati.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, begitu seterusnya, Ia menjalani hari-hari dengan hambar. Tidak ada yang dilakukannya selain bekerja dan bekerja. Sampai suatu ketika di Bulan Ramadhan seorang rekan mengajaknya pergi ke suatu tempat.

“ikut sama gua, yuk ” seorang rekan mengajak, tampaknya dia sudah lama mengetahui kegalauan hatiku.

“kemana? Emang mau ngapain” begitu jawabnya

“adalaah, ikut aja… ngga ada ruginya ikut ama gua” begitu sang rekan mencoba meyakinkan.

Akhirnya Eksekutif Bank tersebut bersedia di ajak, toh ia sedang memiliki keluasan waktu, tidak ada ruginya untuk mengikuti ajakannya.

Ternyata temannya tersebut mengajaknya ke sebuah Pengajian di sebuah Panti Asuhan Anak Yatim. Sepertinya temannya tsb telah terbiasa mengikuti pengajian seperti ini, mungkin sudah lama menjadi salah satu pengurus di Panti tersebut. Iapun larut mengikuti acara pengajian yang diselenggarakan. Pada dasarnya pengajian seperti itu sering ia ikuti kala masih di kampung dulu. Ramai sekali suasana pengajian, namun Ia seperti tidak merasakan kehangatan suasana seperti itu.

Ia memperhatikan anak-anak yang duduk bershalawat, mereka adalah anak-anak yang sudah tidak lagi memiliki orang tua. Suara takbir, tahlil dan tasbih sahut menyahut, sementara ia beku di tengah keramaian. Hatinya hampa dan gelisah.

Pengajian pun selesai tapi acara belum usai, ia berusaha meninggalkan ruangan. Ia berjalan-jalan keluar, masih diseputaran gedung panti Asuhan. Di tengah temaram bulan yang sedikit bersinar, ia melihat sinarnya tersembul sedikit diantara pintalan awan, Ia melangkah perlahan. Ia tendangi kerikil-kerikil kecil, mencoba mengatasi kegundahan yang ada. Beberapa anak yatim bermain berlarian di halaman panti, ia berusaha mengamati mereka semua. Tiba-tiba semungil panggilan menyeruak.

“Om, Om.. Om kan yang tadi di dalam ya, tadi ikut pengajian kan?”

Ternyata seorang anak perempuan memanggilnya .

“iya nak” “hmm siapa namamu sayang?” Ia balik bertanya

“Aku Nina om”

“cantik sekali Nina, Nina sedang apa” Ia membungkukkan badan, berusaha menyamai tinggi anak itu. “Nina sudah sekolah, sekolah dimana?”

“Sudah om, sekolah Nina dekat kok disini”

“pintar-pintar belajar ya nak disekolah,”

“Sini nak, temanin om lihat-lihat panti ya”

Ia pun berkeliling bersama Nina melihat lihat keadaan panti, kami mengobrol penuh canda, kampun pun semakin akrab .

Tiba-tiba Nina menyampaikan sesuatu yang tidak pernah diduga.

“Om hmm om”, suara Nina tercekat.

“ada apa Nina, kok kamu terlihat gelisah? Apa om bisa bantu?

“ini om… Nina boleh minta sesuatu ga, tapi om jangan marah yaaa”

“tentu Nina, om gak akan marah, Nina emang perlu apa?” Ia berjongkok mensejajarkan dengan Nina.

Lama Nina terdiam, wajahnya pucat menahan sekat ditenggorokan. Ia mengelus-elus kepalanya. “ada apa Nina… bilang sama Om, pasti om bantu”

“Om bolehkah Nina memanggil Ayah kepada Om?”

“Om ngga marah kan?”

“Om mau kan jadi ayah Nina?”

Bercecaran Nina mengeluarkan isi hatinya.

Eksekutif tersebut kaget, terdiam, tersungkur dalam keheningan.

Seketika ia peluk anak yatim tersebut, sungguh sebuah permintaan yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Ternyata bukan boneka yg diminta Nina, bukan jg uang, hanya sebuah sebutan 'Ayah'. Tanpa terasa hatinya bergetar.

“tentu anakku, tentu” “Nina boleh memanggil Ayah”

Dipeluknya erat-erat Nina, tak terasa airmatanya telah mengalir, mengisi setiap relung kekosongan hatinya. Inikah petunjuk-Mu ya Rabb, ucapnya syukur dalam hati.

Kemudian Eksekutif Bank tersebut berniat untuk berpamitan

“Nina, ini kan sudah malam, Ayah pulang dulu ya, besok ayah kembali lagi, Nina istirahat ya, kan besok harus sekolah”

"Makasih..Ayah. kapan Ayah akan datang lagi ?"

"Boleh, sayang, Besok Nina mau dibawakan apa sama Ayah?” ia mencoba berpamitan

“Ngga usah ayah, Nina sudah senaaang sekali sekarang, karena sudah punya ayah.

“Ninaaa, kalau nina tidak minta, ayah tidak mau pulang”

Eksekutif Bank tsb membuka dompetnya “Lihat ini uang Ayah banyaak sekali, Nina tinggal minta , pasti Ayah belikan”

“tidak Ayah , Nina tidak ingin apa-apa”

“kalau Nina tidak mau , nanti Ayah tidak kesini lho besok” Ia sedikit mengancam

Nina terdiam cukup lama, “tapi Ayah jangan marah ya”

“iya nak, pasti Ayah membawakan”

“Ayah, selama ini Nina ingin memiliki sesuatu”

“apa itu nak?”

“Nina ingin punya foto”

“foto apa nak, ayah bisa bawakan kamera buat Nina, Nina mau kamera?”

“bukan ayah, bukan itu” , ”Nina ingin foto ayah dan ibu”

“loh untuk apa nak”

“buat diperlihatkan disekolah yah, Nina ingin memperlihatkan foto ayah dan ibu, kalau Nina sekarang punya ayah dan ibu”

Sang Eksekutif Bank tersebut mengangguk, seketika ia berlinang air mata, menangis tersedu-sedu. Sang Eksekutif Bank tsb memeluk Nina dan berkata, "Nina, besok Ayah akan datang lagi ke sini bersama ibumu dan kakak-kakak-mu dan akan Ayah bawa Foto Ayah dan Ibumu."

Kemudian ia pulang. Di mobilnya ia masih menangis tersedu, dadanya sesak, pintu langit seperti terbuka, Tuhan telah membukakan mata hatinya, mengisi setiap relung-relung yang selama ini terasa kosong. Ternyata uang yang banyak, materi bukanlah segalanya, kesuksesan bukan akhir dari sebuah kehidupan. Selama ini Ia mungkin terlalu sibuk hingga telah melupakan satu hal yaitu berbagi dan mengasihi.

Sahabatku,

Cerita di atas bukanlah fiktif, tapi memang kisah nyata. Sang Eksekutif tersebut bernama Bapak Houtman Zainal Arifin, bekas Office Boy di Citibank, yang karena ketekunannya dan kegigihannya serta rahmat Allah, akhirnya 19 tahun kemudian sejak Pak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First National City Bank (Citibank, NA), Pak Houtman mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Sebuah jabatan puncak citibank di Indonesia bagi orang Indonesia waktu itu.

Sampai dengan saat ini barangkali belum ada yang mampu memecahkan rekor Pak Houtman yang masuk sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Pak Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan pernah diembannya, menjadi staf ahli Citibank Asia Pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang .

Kisah di atas sering Pak Houtman ungkapkan dalam berbagai kesempatan, bukan bermaksud bahkan jauh dari riya’ tentunya, tapi Pak Houtman sekedar memotivasi dan mengingatkan kita bahwa untuk mencapai kebahagiaan itu bukan saat kita bisa memiliki segalanya, melainkan saat kita bisa memberi apa yang kita miliki untuk orang lain, meski hanya sebuah ungkapan cinta, meski sekedar memasukkan kebahagiaan kepada orang lain. Dan Pak Houtman telah memasukkan kebahagiaan kepada Nani yang Yatim.

Pak Houtman, yang usianya sudah berkepala 6 kini lebih aktif di masalah sosial, antara lain sebagai Penaaehat di Yayasan Dompet Dhuafa Republika. Ia dan istrinya juga sibuk mengurus sebuah Yayasan Yatim Piatu dan Dhuafa di Selatan Jakarta.

Semoga Allah Swt memanjangkan umur beliau, memberikan kesehatan kepada beliau serta kebaikan yang banyak kepada beliau dan juga keluarganya. Aamiin.

Selasa, 23 Agustus 2011

PEMUDA WANGI SURGA

Di dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Hurairah rhodiyallaahu ‘anhu, Rasululllah shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “ Ada tujuh golongan orang yang mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan selain dari naunganNya… diantaranya, seorang pemuda yang tumbuh dalam melakukan ketaatan kepada Allah.”
Dan di dalam sebuah hadits shohih yang berasal dari Anas bin an-Nadhr rhodiyallaahu ‘anhu, ketika perang Uhud ia berkata,”Wah …. angin surga, sunguh aku telah mencium wangi surga yang berasal dari balik gunung Uhud.”
 Seorang Doktor bercerita kepadaku, “ Pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaaan kritis sedang dirawat. Ketika aku sampai, ternyata pasien tersebut adalah seorang pemuda yang sudah meninggal – semoga Allah merahmatinya -. Lantas bagaimana detail kisah wafatnya. Setiap hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir hidupnya? 
Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya –semoga Allah membalas segala kebaikan mereka- melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh.
Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit dan mengerang sakit? Atau menyuruh agar segera sampai ke rumah sakit? Ataukah ia marah dan jengkel ? Atau apa?           
            Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka,
‘Jangan khawatir! Saya akan meninggal … tenanglah … sesungguhnya aku mencium wangi surga.!’ Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat tersebut di hadapan para dokter yang sedang merawat. Meskipun mereka berusaha berulang-ulang untuk menyelamatkannya, ia berkata kepada mereka, ‘Wahai saudara-saudara, aku akan mati, maka janganlah kalian menyusahkan diri sendiri… karena sekarang aku mencium wangi surga.’
             Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar mendekat lalu mencium keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, ‘Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’ Ruhnya melayang kepada Sang Pencipta subhanahu wa ta’ala.
            Allahu Akbar … apa yang harus aku katakan dan apa yang harus aku komentari…Semua kalimat tidak mampu terucap … dan pena telah kering di tangan… Aku tidak kuasa kecuali hanya mengulang dan mengingat Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “ Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat.” (Ibrahim : 27)
Tidak ada yang perlu dikomentari lagi.
            Ia melanjutkan kisahnya,
            “Mereka membawa jenazah pemuda tersebut untuk dimandikan.  Maka ia dimandikan oleh saudara Dhiya’ di tempat pemandian mayat yang ada di rumah sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan  yang terakhir. Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesudah shalat Magrib pada hari yang sama.
 Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullaah Shallallaahu ‘alahi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat”. Ini merupakan tanda-tanda khusnul khatimah.
  1. Ia katakan tangan jenazahnya lunak demikian juga pada persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas memandikan mayat. Pada tubuh orang yang sudah meninggal itu (biasanya-red) dingin, kering dan kaku.
  2. Telapak tangan kanannya seperti seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan persaksiannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam.
 Subhanalllah … Sungguh indah kematian seperti itu. Kita memohon semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugrahkan kita khusnul khatimah.
Saudara-saudara tercinta … kisah belum selesai…
             Saudara Dhiya’ bertanya kepada salah seorang pamannya, apa yang ia lakukan semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabnya?
             Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di jalan raya?
Atau duduk di depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang terlarang? Atau ia tidur pulas hingga terluput mengerjakan shalat? Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan rokok? Menurut anda apa yang telah ia kerjakan? Mengapa ia dapatkan husnul khatimah (insyaAllah –red) yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun mengidam-ngidamkann ya; meninggal dengan mencium wangi surga.
             Ayahnya berkata, “Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam sesanggupnya. Ia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapat melaksanakan shalat Shubuh berjama’ah. Ia gemar menghafal al-Qur’an dan termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU.”
 Aku katakan, “Maha benar Allah” yang berfirman (yang artinya-red)
 “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan  (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’ Kamilah pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fhushilat:30- 32)

DOKTER MASUK ISLAM

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman bercerita kepadaku tentang kisah masuknya seorang dokter Amerika ke dalam Islam. Dari apa yang kuingat dari kisah yang indah ini adalah : Kisah ini terjadi pada salah satu rumah sakit di Amerika Serikat.
Di rumah sakit tersebut, seorang dokter muslim bekerja dengan keilmuan yang sangat baik, sehingga memberi pengaruh besar untuk mengenal beberapa dokter Amerika. Dan dia, dengan kemampuan tersebut mengundang decak kagum mereka. Diantara para dokter Amerika ini, dia mempunyai satu teman akrab yaitu orang yang memiliki kisah ini. Mereka berdua selalu bertemu dan keduanya bekerja pada bagian persalinan.
Pada suatu malam, di rumah sakit tersebut terjadi dua peristiwa persalinan secara bersamaan. Setelah kedua wanita itu melahirkan, dua bayi tersebut tercampur dan tidak ada yang mengetahui masing-masing pemilik kedua bayi yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan itu. Kerancuan ini terjadi disebabkan kecerobohan perawat yang seharusnya dia menulis nama ibu pada gelang yang diletakkan di tangan kedua bayi tersebut. Dan ketika kedua dokter tersebut tahu bahwa mereka berada dalam kebingungan; Siapakah ibu bayi laki-laki dan siapakah ibu bayi perempuan, maka dokter Amerika berkata kepada dokter Muslim,
”Engkau mengatakan bahwasanya Al-Qur’an telah menjelaskan segala sesuatu dan engkau mengatakan bahwasanya Al-Qur’an itu mencakup semua permasalahan-permasalahan apapun. Maka tunjukkanlah kepadaku cara mengetahui siapa ibu dari masing-masing bayi ini..!!”
Dokter Muslim itupun menjawab,
”Ya, Al-Qur’an telah menerangkan segala sesuatu dan akan aku buktikan kepadamu tentang hal itu. Biarkan kami mendiagnosa ASI kedua ibu dan kami akan menemukan jalan keluar.”
Setelah nampak hasil diagnosa, dengan sangat percaya diri dokter muslim itu memberitahu temannya si dokter Amerika, siapakah ibu sebenarnya dari masing-masing bayi tersebut…!!!! Dokter Amerika itupun terheran-heran dan bertanya, ”Bagaimana kamu tahu?”
Dokter Muslim menajwab
”Sesungguhnya hasil yang nampak menunjukkan bahwasanya kadar banyaknya ASI pada payudara ibu si bayi laki-laki dua kali lipat kandungannya dibanding ibu si bayi perempuan. Perbandingan kadar garam dan vitamin pada ASI si ibu bayi laki-laki itu juga dua kali lipat dibanding ibu si bayi perempuan.”
Kemudian dokter muslim tersebut membacakan ayat Al-Qur’an yang dia jadikan dasar argumen dari jalan keluar itu,
”Bagi laki-laki seperti bagian dua perempuan.” (QS. An-Nisa:11)
Dan setelah mendengarkan dokter Amerika itu arti ayat tersebut, dia jadi bengong, dan dia menyatakan keislamannya secara spontan tanpa ragu-ragu. Subhanallah, Maha Suci Allah Robb semesta alam.

Minggu, 05 Juni 2011

SAFAAT KARENA SHOLAWAT

Shalawat Nabi SAW dipercaya telah menjadi syafaat, rahmat, berkah, dan obat yang orisinil untuk menyelamatkan kehidupan seseorang baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan kerap kali shalawat ini memutarbalikkan sebuah fakta inderawi. Berikut beberpa buah kisah yang bertutur tentang keajaiban shalawat.

SEORANG SUFI DAN PENJAHAT

Konon seorang sufi menceritakan pengalaman hidupnya tentang keajaiban dari shalawat Nabi SAW. Ia menuturkan bahwa ada seorang penjahat yang sangat melampaui batas yang kehidupannya hanya diisi dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Demikian tenggelamnya penjahat itu ke dalam lumpur kemaksiatan seperti kebiasaan mabuk-mabukan, ia tidak bisa lagi membedakan mana hari kemarin, hari ini, dan hari esok. Sang sufi lalu menasehati sang penjahat agar ia tidak mengulangi lagi kedurhakaannya, dan segera bertobat pada Allah SWT. Namun demikian, penjahat tetaplah penjahat, nasehat sang sufi tidaklah digubrisnya. Ia tetap bersikeras untuk melakukan perbuatan-perbuatan bejatnya sampai sang ajal datang menjemputnya. Sang penjahat, menurut sufi, benar-benar yang bernasib tidak baik karena ia tidak sempat mengubah haluan hidupnya yang hina dan bahkan tidak sempat bertobat. Secara logis, sang sufi mengatakan bahwa si penjahat akan dijebloskan Allah SWT ke dalam azab neraka. Namun apa yang terjadi?

Pada suatu malam, sang sufi bermimpi, ia melihat sang penjahat menempati posisi yang amat tinggi dan mulia dengan memakai pakaian surga yang hijau yang merupakan pakaian kemuliaan dan kebesaran. Sang sufi pun terheran-heran dan bertanya pada sang penjahat, “Apakah gerangan yang menyebabkanmumendapatkan martabat setinggi ini?” Sang penjahat menjawab, “Wahai sang sufi, ketika aku hadir di suatu majelis yang sedang melakukan dzikir, aku mendengarkan orang yang alim yang ada disitu berkata, “Barangsiapa yang bershalawat atas Nabi Muhammad SAW niscaya menjadi wajib baginya mendapatkan surga.” Kemudian sang alim itu mengangkatkan suaranya demi membacakan shalawat atas Nabi SAW dan aku pun beserta orang-orang yang hadir disekitarnya mengangkat suara untuk melakukan hal yang sama. Maka, pada saat itulah, aku dan kami semua diampuni dan dirahmati oleh Allah SWT Yang Maha Pemurah terhadap nikmatNya.

Senin, 15 November 2010

PEDAGANG ASONGAN BERHATI MULIA


Setelah menyetir terlalu lama sepulang dari kampung saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan saya. “Abang mau beli kue?” Katanya sambil tersenyum. Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya.
“Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan,” jawab saya ringkas dan akhirnya dia berlalu.
Pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Tidak sampai 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri calon pembeli lain. Saya lihat dia menghampiri sepasang suami istri. Mereka juga menolak tawaran anak itu, dan dia berlalu begitu saja.
“Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?” tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya lagi.
“Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih,” kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pun pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu dia tanya, “mau beli kue saya Bang, Pak… Kakak,… Ibu..” Halus budi bahasanya, pikir saya. Sambil memperhatikan., terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya. Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup
pintu. Namun belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi sudah berdiri di samping mobil. Dia tersenyum kepada saya. Saya turunkan kaca jendela dan membalas senyumannya.
“Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlu bawa kue saya buat oleh-oleh untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang,” katanya sopan sekali, sambil tersenyum. Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya. Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya.
“Ambil ini Dik! Abang sedekah… tak usah Abang beli kue itu.” Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan yang meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima restoran. Saya gembira dapat membantunya.
Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah kagetnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis buta. Saya terkejut, saya hentikan mobil, dan memanggil anak itu.
“Kenapa Bang, mau beli kue ya?” tanyanya. “Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan ke Adik!” kata saya tanpa menjawab pertanyaannya. “Bang, saya tak bisa ambil duit itu.. ..Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak Emak pasti marah. Kata Emak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat Bang!” katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.
“Abang mau beli semua?” dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata. “Rp 25.000,- saja Bang….” Dengan gembira dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan berlalu dari pandangan saya. Ya Tuhan!. Saya hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati, siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidik anak itu?. Sesungguhnya saya kagum dengan sikapnya. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya.. …..
Kisah yang patut direnungkan. Artinya boleh saja kita kaya, tetapi jangan sampai kekayaan tersebut membawa kepada kepada kedekatan kita kepada syetan dan neraka. Begitu juga jika kita diberi kemiskinan, jadikanlah kemiskinan tersebut sebagai ladang amal untuk menuju kepada ridho Allah bukan sebaliknya menuntun kita kepada jalan yang tidak diridhoi-Nya. Jadi siapa yang kaya dan siapa yang miskin tergantung kepada apakah kita masih membutuhkan dunia ini atau tidak. Atau hanya menjadikan dunia sebagai batu loncatan untuk mengapai kebahagian akhirat. ****

Kamis, 14 Oktober 2010

SEDEKAH NYA MENGHINDARKAN DARI MAUT


Suatu ketika rasulullah sedang duduk bersama para sahabat. Lalu melintaslah seorang yang memanggul kayu bakar. Tiba-tiba Rasulullah berkata kepada para sahabat, “Orang ini akan meninggal nanti siang”. Sorenya ketika Rasulullah duduk bersama para sahabat, melintaslah orang tersebut. Maka dipanggillah orang tersebut oleh rasul dan ditanya, “Aku diberitahu (malaikat) tadi pagi bahwa kamu akan menemui ajal siang tadi.
Tapi kulihat kamu masih segar bugar. Apa yang telah kamu lakukan?” Kemudian orang itu berkisah bahwa tadi pagi dia membawa bekal makan siang. Lalu di tengah jalan bekal itu dia sedekahkan kepada orang yang membutuhkan.
Selanjutnya, kata orang itu, saat kayu-kayu bakar diletakkan tiba-tiba seekor ular hitam keluar lari menjauh dari dalamnya. Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa ular itulah yang sedianya akan mematuk orang tersebut, namun dia berpindah takdir karena sedekahnya menghindarkan dia dari bahaya tersebut.
Kisah itu menunjukkan keutamaan sedekah yang bisa menghindarkan diri dari bahaya, sekaligus menujukkan bahwa cara Tuhan membalas sedekah tidak dalam bentuk dan jalan yang kita sangka sangka .